Pages

Showing posts with label Parenting. Show all posts
Showing posts with label Parenting. Show all posts

Materi pelajaranpun bisa jadi dongeng



KOMPAS.com - Setiap orangtua pasti ingin punya anak yang pandai. Namun selama ini orangtua lebih mengutamakan kepandaian kognitif, padahal kecerdasan emosional dan character building juga tidak kalah penting. Bahkan, pembentukan karakter dan kecerdasan emosional sebaiknya sudah dilakukan saat anak berusia 3-7 tahun.

Orangtua bisa menstimulasi kecerdasan emosional anak dengan cara mendongeng. Karena, proses dalam mendongeng juga bisa membantu anak meningkatkan kecerdasan emosional sekaligus merangsang kecerdasan kognitif mereka. Dongeng juga bersifat fleksibel, karena materinya tidak harus dari buku-buku cerita.

"Selain berupa cerita tentang lingkungan, atau nilai-nilai moral, dongeng juga bisa menjadi alternatif cara untuk memelajari materi pelajaran di sekolah," tukas pendongeng Awam Prakoso, saat talkshow di Hongkong Cafe, Jakarta, beberapa waktu lalu.

Biarkan anak bermain bebas

KOMPAS.com — Ajarkan anak-anak untuk bermain. Mendengar anjuran ini, mungkin Anda segera mengerutkan alis. Bukannya anak-anak memang gemar bermain? Memang, tapi dengan semakin modernnya dunia ini, anak-anak lebih cenderung memilih permainan yang sifatnya lebih terstruktur. Misalnya, bermain video games, bermain kasti dengan teman-teman di sekolah, atau kursus balet bersama anak-anak sebaya. Menurut Darell Hammond, penulis buku best-seller berjudul KaBOOM!: How One Man Built a Movement to Save Play, tipe permainan seperti ini sebenarnya kurang alami untuk anak-anak.

"Jenis permainan yang baik bagi anak adalah semua jenis permainan," tutur Hammond, yang juga pendiri KaBOOM!, sebuah organisasi nirlaba yang membantu membangun tempat bermain di berbagai komunitas di Amerika Serikat. "Yang kita lihat sekarang ini, anak-anak terlalu banyak menjalani aktivitas yang sangat terstruktur dan mendorongnya untuk bermain dalam tim. Padahal, mereka juga butuh permainan yang bebas dan kreatif," ujarnya.

4 Tips Menggali Kreativitas Anak

KOMPAS.com - Melihat anak senang menggambar atau bernyanyi, Anda sebagai orangtua pasti akan ikut senang. Namun, di dalam hati mungkin tersimpan pertanyaan, bagaimana ya caranya supaya anak bisa lebih kreatif lagi. Apakah Anda harus memberikan lebih banyak krayon? Mungkin tidak. Justru, memperkenalkannya pada lingkungan baru dan aktivitas lainnyalah yang akan bisa mengasah kreativitas anak. Dan tentu saja ini tidak terlepas dari keterlibatan orangtua. Coba beberapa tips ini untuk membuat anak lebih kreatif:

1. Ajak mereka masuk dapur
Sesekali, biarkan anak ikut memasak bersama Anda dan ajarkan mereka tentang berbagai jenis bumbu dan bahan makanan. Biarkan mereka mencoba resep hasil temuannya sendiri dan ikutlah mencicipi. Bawa juga mereka ke pasar untuk melihat berbagai bahan pangan yang dijual dan ceritakan apa saja yang bisa diolah dari sana. Mengetahui bagaimana makanan yang tersaji di rumah itu dibuat dan dari mana asalnya akan menjadi cara yang bagus untuk menstimulasi rasa ingin tahu mereka. Dan, siapa tahu akan memunculkan hobi yang baru!

Kebiasaan Keliru Mendidik Anak

Mendidik anak bukan perkara mudah, namun demikian tidak banyak orangtua yang sungguh-sungguh konsen terhadap pendidikan anaknya. Banyak orangtua merasa sudah cukup apabila semua kebutuhan materi anaknya dipenuhi. Perkara pendidikan adalah urusan pembantu, urusan baby sister, urusan sekolah, urusan guru, sedangkan orangtua cukup sebagai “supporter” dalam hal memenuhi kebutuhan; uang, pakaian, makanan, dan kebutuhan sekunder lainya. Walhasil ketika anaknya menjadi remaja / dewasa, tumbuh tidak sesuai dengan harapannya, menjadi remaja yang nakal, terjerumus dalam pergaulan bebas, narkoba dan lain-lain, maka mulailah orangtua mencari kambing hitam. “Pembantunya dulu tidak sekolahan, baby sisternya bodoh, sekolahnya tidak beres, guru-gurunya tidak becus mendidik anak, anak tetangga pada brengsek, teman-teman pergaulannya brandalan pada ngobat, membuat anak saya hancur”. Kira-kira demikian omelan orang tua ketika anaknya terjebak dalam masalah. Yang pasti orangtua pada kondisi demikian tidak mau berada pada pihak yang disalahkan.

Mereka merasa selalu benar, tidak pernah salah.Situasi demikian terjadi, karena orangtua lupa bahwa pendidik pertama dan utama adalah orangtua sendiri. Keberhasilan pendidikan anak berangkat dari rumah, dari keluarga, dari kedua orangtuanya, bukan dari sekolah maupun lingkungan masyarakat. Terlebih yang berkaitan dengan pendidikan nilai, pendidikan moral dan pendidikan keagamaan. Sangat penting bagi para orang tua untuk mulai refleksi diri, menyadari sepenuhnya bahwa terlalu bahaya dan beresiko sangat tinggi mempercayakan pendidikan anak hanya kepada sekolah, kepada pembantu, kepada baby sister. Beberapa pertanyaan berikut barangkali dapat membantu untuk refleksi. Benarkah saya sebagai orangtua selama ini sudah bertanggungjawab mendidik anak-anak yang saya lahirkan?. Sudahkah saya memberikan perhatian khusus kepada anak-anak saya dari waktu kewaktu?. Berkeberatankah saya sebagai Ibu memberikan ASI (Air Susu Ibu) kepada bayi saya, hanya demi egoisme saya dan suami?

Mendidik anak sejak dalam kandungan

Selama berada dalam rahim, anak dapat belajar, merasa, dan mengetehui perbedaan antara gelap dan terang.
Hasil penelitian para Ilmuwan menyatakan bahwa :


Program – program stimulasi dini meningkatkan nilai tes kecerdasan dalam pelajaran utama pada semua anak yang diteliti dari masa bayi hingga usia 15 tahun. Anak – anak tersebut mencapi kecerdasan 15 hingga 30 persen lebih tinggi. Stimulasi tersebut tidak hanya mengembangkan pencabangan sel otak lebih banyak dan daerah kortikal otak yang tebal, tetapi juga lebih cerdas dan lebih terampil bersosialisasi.
Bayi yang diberi stimulisasi pralahir cepat mahir bicara, menirukan suara, menyebutkan kata pertama, tersenyum secara spontan, mampu menoleh ke arah suara orangtuanya, lebih tanggap terhadap musik, dan juga mengembangkan pola sosial lebih baik saat ia dewasa.


Stimulasi pralahir dapat membantu mengembangkan orientasi dan keefektifan bayi dalam mengatasi dunia luar setelah ia dilahirkan. Bayi – bayi yang mendapat stimulasi pralahir dapat lebih mampu mengontrol gerakan – gerakan mereka dan juga lebih siap menjelajahi dan mempelajari lingkungan setelah dilahirkan, lebih tenang, waspada, dan bahagia.